Home Section Blog Konsep Desain Ruang Nusantara Terhubung dengan Alam

Ruang Nusantara Terhubung dengan Alam

Untuk mendefinisikan ruang (arsitektur), bergantung dari bagaimana manusia memaknai posisinya di alam semesta ini. Manusia perlu paham bahwa alam sudah ada sebelum manusia ada. Keberadaan alam tersebut berlangsung terus hingga saat ini karena kekuatan yang dimilikinya. Sebuah kekuatan yang telah menyeimbangkan bumi agar tetap berposisi sebagai gumpalan tanah yang membungkus magma. Kekuatan yang demikian kecil artinya dibanding kekuatan matahari menguasai galaksi.

Jika ingin tetap tinggal di bumi, maka selayaknya manusia turut serta dan meyelaraskan kehidupannya dengan sistem kekuatan alam yang sudah membuat semesta menjadi stabil. Penyelarasan ini bukan hanya teraktualisasi dengan kegiatan yang tidak menyentuh alam, namun justru sebaliknya, karena manusia juga merupakan bagian alam, maka diperlukan persentuhan dengan alam. Hanya saja persentuhan tersebut harus dilakukan dengan aturan agar keseimbangan tetap terjaga. Kepercayaan animisme dan dinamisme selayaknya juga tidak hanya dipandang sebagai aktifitas negatif klenik saja, namun perlu ditelaah sebagai bentuk aktualisasi manusia dalam menghargai kekuatan alam (Sofia, 2002).

Dari kekuatan yang menstabilkan semesta itulah manusia mencari dan mewujudkan ruang bagi dirinya. Dari pengalamannya, dari pembelajaran yang dilakukan, dari tradisi yang diserap, manusia mendapatkan ilmu tentang kekuatan alam ini. Di daerah yang sering terjadi gempa, maka secara otomatis penciptaan ruang yang dilakukan akan berbeda dengan daerah yang sering terjadi badai, akan berbeda pula dengan daerah yang sering terjadi banjir, dan lain-lain fenomena alam di setiap tempat di atas permukaan bumi ini. Segala perbedaan ini telah berjalan ribuan tahun lalu membentuk aturan berupa adat istiadat dan tradisionalitas secara turun temurun. Pembelajaran terhadap kekuatan alam ini kemudian dituliskan dalam ilmu berbentuk sastra dan lisan (Suwarno, 1993). Terwujudlah order untuk pengaturan pembentukan ruang arsitektur sebagai ’tempat’ manusia dalam menjalankan kehidupan. Arsitektur yang selalu terhubung dengan segala kekuatan alam di sekitarnya. Dari proses adat ini, diawali dari arsitek informal, terjadi sebuah pembelajaran yang dapat mengasah kepekaan terhadap fenomena alam (Amrih, 2008). Kepekaan yang menghubungkan antara arsitek dengan alam ini menjadi bekal untuk menyelesaikan problem dan mendapatkan solusi. Kepekaan yang didapatkan dengan pengolahan rasa disamping mengerahkan nalar. Kepekaan yang selaras dengan perjalanan budaya manusia dan mampu memberi jiwa dengan ’ruang’ dan ’tempat’ yang hidup memperindah karya arsitektur.

Dalam berbudaya manusia menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan cara yang bukan saja rasional, tetapi juga intuitif. Masalah terbesar yang dihadapi manusia adalah kekuatan alam. Untuk mengakomodasi ruang kekuatan alam menjadi ruang arsitekturpun juga digunakan rasio dan intusisinya. Selama bergenerasi dan turun temurun manusia menemukan berbagai formula dengan cara menuliskannya dalam bentuk sastra (primbon, prasasti, kitab, dan lain-lain). Setiap manusia yang menghuni tempat berbeda di bumi ini selalu memiliki penyelesaian masalah yang berbeda pula. Penyelesaian masalah di daerah yang beriklim 4 musim akan berbeda dengan penyelesaian masalah di daerah yang beriklim 2 musim seperti di Indonesia. Secara primordial penyelesaian masalah alam inilah yang mendasari budaya manusia. Budaya yang mempengaruhi filosofi dari sekelompok manusia terhadap arsitektur dan ruang. Masyarakat Barat yang bercocok tanam dengan ladang akan berbeda dengan masyarakat Indonesia yang bercocok tanam dengan sawah.

Masyarakat primordial di Indonesia dengan kepercayaan animisme dan dinamismenya menganggap ruang kosmos terbagi menjadi beberapa bagian. Secara vertikal menjadi tiga, yaitu : pertama adalah dunia atas dengan kekuatan alam dari langit, dunia tengah tempat manusia menghuni, dan dunia bawah dengan kekuatan alam dari magma. Secara horizontal terbagi menjadi lima dengan empat penjuru mata angin dan satu pusat. Di jawa pembagian ini disebut dengan papat keblat limo pancer. (Sumardjo, 2002). Pemahaman tentang keberadaan pusat (pancer) dipengaruhi oleh cara bercocok tanam dengan sawah yang membutuhkan koordinasi tunggal. Ruang komunitas yang tercipta adalah pembukaan ruang alam yang buas menjadi ruang sawah dengan permukiman dan/atau kerajaan sebagai pusatnya. Pusat merupakan wilayah yang paling manusiawi, semakin jauh dari pusat semakin mendekati wilayah dunia ghaib yang dihuni makhluk halus menakutkan. Batas ruang bukanlah hal yang penting untuk diperhatikan, yang ada hanya ’tempat’ mana untuk manusia (permukiman dan sawah) serta tempat mana untuk selain manusia (hutan belantara). Ruang demikian relatif, dapat menjadi kecil ketika jumlah masyarakat berkurang, namun pada umumnya menjadi besar ketika jumlah masyarakat bertambah. Namun demikian ada batasan besaran tertentu dengan prinsip untuk mewujudkan ruang otonom kecil lain daripada memperbesar ruang yang sudah ada.

gambar 5Gambar 5. Filsafat ruang arsitektur dari masyarakat primordial Indonesia
yang tidak terlepas dari aspek kosmologi dan budaya bercocok tanam.

 

Eksistensi dari ruang ditentukan dengan perannya sebagai ’tempat’. Besarannya juga tidak perlu dibatasi dengan elemen arsitektur, tapi dengan faktor lain seperti bau (bau bakaran sekam dari dapur) dan suara (suara anjing/ternak). Elemen arsitektur lebih berperan sebagai isi dari ’tempat’ yang ditentukan. Sebuah dinding tidak akan dibiarkan kosong menjadi pembatas, tapi akan diukir dan digambar dengan berbagai pesan-pesan budaya. Bentuk yang terwujud adalah formulasi dari pengakomodasian kekuatan alam fisik (hujan, panas dan angin) serta alam non fisik (berbagai simbul-simbul kosmologi). Ruang sebagai ’tempat’ bukan saja terpengaruhi oleh kegiatan manusia, tetapi lebih penting lagi adalah perhatiannya terhadap alam semesta. Sebuah ruang perlu didefinisikan untuk manusia siapa dan berada di bagain alam mana. Pendefinisian tersebut menentukan perwujudan ruang sengan bentuk seperti apa.

Ruang arsitektur bukanlah hanya ruang kosong (space) saja, namun juga ruang yang berguna bagi manusia. Banyak sekali ruang kosong di alam semesta, bahkan ruang kosong yang terbesar terletak di ’ruang angkasa’ (space). Walau demikian, setiap kekosongan tersebut memiliki kekuatan yang dahsyat di luar jangkauan manusia. Manusia mengambil sedikit bagian dari kekosongan semesta untuk ditinggali, untuk beraktifitas, berkehidupan dan berbudaya. Manusia menetapkan sebuah tempat dan disitulah tercipta apa yang disebut dengan ’arsitektur’. Manusia kemudian menyelaraskan dirinya untuk dapat mereguk kekuatan alam semesta di sekitarnya.

Manusia mengatur ruang sebagai ’tempat’ dalam melakukan aktifitas. Karena hubungannya dengan semesta inilah maka setiap ruang arsitektur yang tercipta di setiap bagian permukaan bumi memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Artinya bahwa topografi bumi dan posisi permukaannya terhadap matahari sangat mempengaruhi jenis penciptaan dari ruang arsitektur. Setiap ruang arsitektur, setiap tempat yang diciptakan manusia, selayaknya memiliki hubungan terhadap globalitas dan lokalitas. Dari konsep tersebut terciptalah arsitektur dengan segenap ragam kebiasaan, lalu menjadi tradisi, kemudian menjadi budaya dan akhirnya menjadi paham filosofis tertentu.

 

Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Search
Clocks
Ulti Clocks content
space1

Web design Surabaya

desain website

Desain website Surabaya.

Jasa SEO Surabaya