Tema Air dalam Desain Arsitektur
Dalam sejarah perkembangannya, arsitektur telah menggunakan air untuk berbagai kepentingan bagi penciptaan tujuan tertentu dari sebuah lingkungan binaan. Bangunan Taj Mahal di kota Agra India menggunakan air pada kolam didepannya untuk membangkitkan kesan terhadap kemegahan.
Falling Water House, karya arsitek Frank Lloyd Wright mengunakan air dinamis dalam bentuk air terjun yang membuat bangunan tersebut berkesan melayang dengan dominasi material alam yang selaras pada lingkungan alam sekitarnya tetapi tetap memiliki geometri dan posisi yang kontras. Aldo Rossi dengan karya arsitekturnya Teatro del Mundo yang banyak diulas sebagai karya arsitektur surealis membuat fasilitas teater yang mengambang di teluk dan bergerak perlahan dari satu tempat ke tempat lain dalam sebuah wadah air yang besar, alami dengan ombak pelan dan refleksi-refleksinya, Curch of Water Karya Tadao Ando di Jepang mempergunakan telaga sebagai background dari altar sebuah gereja, dimana suasana dapat berubah dari musim semi menunjukkan gelombang air berwarna biru yang tenang menuju musim salju dengan penampilan yang berwarna putih, keras, licin dan beku, Karya Frank Owen Gehry yang cukup spektakuler sehingga menghantarkannya mendapatkan penghargaan Pritzker Prize adalah Museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol, terletak dan eksisten dengan air pada sungai Bilbao dengan gelombang tenangnya yang cukup lebar, beberapa bagian pelataran museum juga menggunakan kolam-kolam air sehingga tercipta hubungan yang indah antara arsitektur dengan lingkungan sekitarnya. 
Faktor air ini demikian mempengaruhi perancangan arsitektur dalam teori-teori tertentu seperti Waterfront Architecture, Aquascape, Water and Garden, dan lain-lain. Air telah menjadi sebuah elemen yang diakomodasi untuk mencapai suasana tertentu dalam arsitekur, terwujud dalam berbagai pengolahan, seperti bergelombang keras, tenang, beriak, berkabut, beku, mengalir, terjun dan sebagainya.
Air telah ada sejak bumi ini ada pula. Arsitektur sebagai lingkungan buatan manusia memanfaatkan segala elemen alam untuk menghasilkan estetika ruang, salah satunya adalah air. Elemen air ini dapat diolah jika berada dalam situasi yang berlebihan bagi penyediaan kebutuhan manusia, sehingga dapat dimanfaatkan dalam bentuk kolam, aliran sungai, air terjun, air mancur dan air muncrat. Pemanfaatan air dapat secar manual dengan tenaga angin ataupun gravitasi,dapat pula secara mekanis dengan pompa dan unsur mekanis lainnya. Beberapa aristek besar telah menggunakan air dalam memunculkan suasana pada karya-karya arsitekturnya, arsitektur tradisional dalam sebuah kawasan selalu menampung dan mengolah air sebelum dipakai sebagai kebutuhan pokok bagi masyarakat di kawasan tersebut. Padusan dan Tamansari pada keraton-keraton di Jawa, Kolam dan air mancur pada Pura yang terletak di pulau Bali menunjukkan sebuah fenomena bahwa air demikian penting dan menarik untuk diolah bagi kehadiran sebuah karya arsitektur.
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
Last Updated ( Thursday, 27 August 2009 01:42 )










