Mengantisipasi Panas melalui Pengaturan Elemen Arsitektur
| sains arsitektur |
Panas matahari merupakan enegi yang dibutuhkan bumi, namun di sisi lain dampak yang ditimbulkan akan mengurangi kenyamanan di dalam arsitektur. Modifikasi iklim sudah merupakan bagian yang wajib dipertimbangkan dalam desain arsitektur, termasuk mengantisipasi dan mengelola dampak dari panas matahari. Sejak berlangsungnya arsitektur vernakular sampai dengan arsitektur modern berteknologi tinggi, panas selalu menjadi bahan kajian yang cukup menarik untuk direkayasa.
Cara paling mudah adalah menghindari panas pada jam efektifnya dengan mengatur orientasi bangunan. Beberapa ruang yang tidak vital dan dipergunakan untuk waktu singkat dapat diletakkan di sisi Barat, di mana panas pada siang sampai sore hari akan mengganggu aktifitas manusia. Cara lain yang lebih mempertimbangkan teknologi adalah dengan memadukan antara panas dan penghawaan. Jika diketahui bahwa angin akan selalu mengalir dari tempat yang dingin menuju panas, maka selayaknya lokasi ruang juga diarahkan sedemikian rupa sehingga tetap mendapat kesejukan. Dengan pengetahuan ini bahkan dapat didesain bahwa selayaknya dibuat bukaan sebanyak mungkin di lokasi panas, seperti atap, teritis, dan ’sunscreen’.
Untuk mendinginkan dinding, dapat dibuat ’secondary wall’ setelah dinding utama, di mana ruang di antaranya akan berfungsi sebagai tempat peredam panas. Bukan hanya karena ketebalannya dalam memperpanjang radiasi panas, namun juga sistem aliran udara yang terjadi di ruang transisi tersebut yang berjalan mendinginkan ruang utama. Memang akan ada ruang terbuang, namun jika ruang ini dapat seimbang dengan tingkat kenyamanan di dalam ruang utama, maka layak untuk dipertimbangkan dlam desain.
Dengan lebih terencana, aliran udara dingin dapat diatur dengan perletakan ruang yang di hubungkan dengan cerobong angin (wind tunnel). Ruang utama perlu mendapat bukaan pertama yang menghadap sumber hawa dingin seperti taman dan perteduhan lain. Bukaan kedua adalah perlubangan yang mengubungkan ruang tersebut dengan sumber penyedot udara di dalam ’wind tunnel’. Sebuah cerobong udara justru bagian atasnya diberi material yang dapat menyebabkan panas tingi hingga mampu menarik dan megalirkan udara dingin melalui ruang utama.
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









