Home SAINS ARSITEKTUR Sains Arsitektur Guna Resapan Air dan Hubungannya dengan Arsitektur Berkelanjutan

Guna Resapan Air dan Hubungannya dengan Arsitektur Berkelanjutan

sains arsitektur

Arsitektur berkelanjutan merupakan sebuah gerakan internasional yang didasari keinginan menyelematkan bumi beserta lingkungan hidupnya. Mendesain dengan motivasi arsitektur berkelanjutan memerlukan banyak pemikiran yang menyangkut pengambilan keputusan secara bijaksana agar dampaknya tidak mencemari bumi dan merusak alam semesta. Memilih bahan kayu dari pohon yang mudah tumbuh kembali dipandang lebih bijaksana dibanding memilih bahan baja yang didapat dengan merobek-robek perut bumi. Memikirkan ketersediaan cadangan air bersih adalah salah satu tujuan dari gerakan ini.



Air bersih adalah air yang secara fisik dan kimia sehat untuk dikonsumsi bagi kehidupa manusia. Air bersih sudah ada sebelum manusia ada dan lebih banyak menghilang ketika manusia menggunakannya. Ketersediaan air bersih secara alami dapat diperoleh dari sumber mata air yang mengalir pada sungai yang belum terpakai untuk kegiatan manusia dan air yang berada di dalam tanah. Air bersih lebih banyak terdapat di negara tropis seperti Indonesia terutama di daerah pegunungan dan pedesaan. Di daerah tepi pantai sulit di dapat air bersih karena lebih dekat dengan laut yang memiliki air asin. Di daerah perkotaan dan industri lingkungan air bersih sudah sulit didapatkan secara alami karena pencemaran darilimbah industri dan rumah tangga.

Di daerah perkotaan, tanah lebih banyak tertutup oleh aspal dan beton sehingga air bersih dari hujan tidak disimpan di dalam tanah tetapi langsung dialirkan ke selokan dan sungai yang sudah kotor. Di daerah perkotaan penyediaan air bersih dari peresapan tanah menjadi minim karena air tawar langsung dialirkan ke sungai menuju laut. Secara umum terjadi sikulus air bersih yang muncul dari sumber mata air di gunung lalu mengalir ke sungai dan menuju laut, baik di sungai dan laut terjadi penguapan karena panas matahari sehingga menyaring air menjadi bersih untuk turun ke bumi menjadi hujan, di permukaan bumi yang berupa tanah air diresap dan diurai oleh bakteri menjadi lebih bersih laluterbawa oleh sungai bawah tanah hingga muncul kembali di sumber air bersih pegunungan.

Memahami fenomena ini selayaknya arsitektur berkelanjutan juga lebih banyak menyediakan pembukaan tanah untuk meresapkan air hujan kedalamnya. Desain bangunan dengan lantai panggung lebih baik daripada desain yang menapak dan menutupi tanah. Membuat penghijauan di bawah kolong bangunan yang langsug berhubungan dengan tanah lebih baik daripada menanamnya di atas pot. Membuat lebih banyak sumur resapan untuk limbah rumah tangga lebih baik karena air kotor yang masuk akan diuraikan oleh bakteri di dalam tanah hingga bersih dan turun menuju kumpulan air tanah.

Selayaknya pula air hujan yang menuju talang juga tidak langsung dibuang ke selokan tapi dicampurkan ke dalam sumur resapan. Tentunya dengan perhitungan volume bahwa sumur resapan tersebut dibuat lebih banyak sehingga tidak cepat penuh. Bangunan tertentu yangmenghasilkan limbah lebih banyak dan sulit diurai perlu menyediakan fasilitas pengolahan limbah hingga menghasilkan air yang sehat. Air inipun selayaknya pula tidak langsung dibuaang ke selokan/sungai, tetapi banyak diresapkan ke dalam tanah dengan pembuatan sumur-sumur resapan. Jika banyak bangunan dapat menjadi perantara bagi penyediaan air bersih di dalam tanah, maka konservasi air bersih hampir pasti bisa dijaga keberlanjutannya. Dengan ketersediaan cadangan air bersih ini, maka manusia semakin yakin bahwa bumi akan selalu dapat terjaga dan tidak semakin rusak.


Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS

 

Comments
Search
Sri Sudaryantini   |2010-05-31 18:58:45
Selamat siang pak.
Saya tertarik sekali membaca artikel bapak di atas.
Kebetulan saya salah satu orang yang cukup prihatin dengan resapan air yang ada
di sekitar rumah. Kalau bapak tidak keberatan, saya ingin menanyakan beberapa
hal kepada bapak.

Bulan Juli Insya Allah kami akan membangun rumah di tanah se
luas 180 m2. lebar taman di halaman depan adalah 3,5 m2 dan dibelakang rencana
saya akan membuat taman dengan luas 2,5 x 4 m2.Saya ingin sekali air yang
terbuang bisa meresap ke dalam tanah tempat tinggal saya. Oleh karena itu mohon
bapak jawab beberapa pertanyaan saya di bawah ini:

1. Baguskah , apabila saya
memakai bio keramik untuk pembuangan jamban rumah saya dan saya letakkan di
taman belakang?

2. Tepatkah apabila air hujan yang berasal dari genteng saya
buatkan tempat pembuangan khusus sehingga air yang terbuang tidak mengalir ke
got tapi kembali ke tanah lingkungan sekitar? saya bermaksud membuat sumur
resapan ...
tribinuka   |SAdministrator |2010-06-02 08:45:38
salam saudari Sri Hartini
1. sebenarnya untuk resapan air dari jamban lebih
murah dengan septictank dan sumur resapan saja. menggunakan bio keramik menjadi
mahal. materi padat dari jamban akan diendapkan di septictank, sedang materi
cair disalurkan ke sumur resapan, lalu diresapkan ke tanah. dalam proses
anaerobik di tanah tersebut, air limbah dinetralisir. konstruksinya sederhana,
dengan batu bata kosong, lalu diselimuti kerikil setebal 15 cm, diselimuti lagi
pasir setebal 15 cm dan terakhir yang bersentuhan dengan tanah adalah ijuk
setebal 10 cm. berapapun ukuran tanah atau halaman, yang terpenting adalah jarak
sumur resapan ini harus lebih dari 10 meter.
2. baik saja jika menyediakan
cadangan air dengan penampung air hujan dengan kolam buatan atau sumur, jika
berlebih baru dialirkan ke selokan.

semoga bermanfaat, salam, tribinuka
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Search
Clocks
Ulti Clocks content
space1

Web design Surabaya

desain website

Desain website Surabaya.

Jasa SEO Surabaya