Menyiasati Kontur dalam Desain
| lansekap |
Kontur merupakan garis imajiner sebagai penanda titik-titik pada lahan miring yang memiliki ketinggian sama. Interval kontur adalah jenjang yang ditentukan antara satu garis titik ketinggian dengan satu garis titik ketinggian yang lain. Interval kontur yang paling umum adalah 1 meter, namun demikian dapat pula dibuat interval setiap 0,5 meter, 2 meter, 5 meter. Biasanya di dalam gambar kerja lansekap dicantumkan pula penanda interval kontur, misalnya setiap 1 meter bergaris tipis, dan setiap 5 meternya bergaris tebal. Mendesain dalam lahan berkontur memerlukan strategi tersendiri untuk menyiasati agar arsitektur dapat terwujud dengan baik.
Desain yang aplikasinya akan memakan biaya banyak dalam lahan berkontur jika banyak pula penggalian (cuta) dan pengurugan (fill) yang dilakukan, sedangkan desain yang aplikasinya paling minim biaya jika hampir tidak ada kegiatan cut dan fill yang dilakukan. Namun demikian desain itu tidak berarti pula bahwa seluruh bangunan melayang di atas lahan berkontur dan disangga tiang-tiang sehingga lahan tidak banyak diurug/digali. Karena tindakan tersebut juga akan memakan banyak biaya pembuatan pelat lantai. Langkah yang cukup bijak adalah dengan mencari dan selalu mencari kesetimbangan di lokasi mana desain arsitektur menumpu di atas tanah, satu ruang dapat memiliki ketinggian yang berbeda dengan ruang lain sesuai dengan kontur yang ada.
Sebuah rancangan denah arsitektur yangmeliuk mengikuti kontur akan memiliki level lantai yang sama tingginya dibanding rancangan denah yang tegak lurus dengan garis kontur. Demikian pula jalan mobil/pedestrian yang selalu sejajar dengan kontur akan relatif datar, jika jalur jalan tersebut melawan arah kontur maka posisinya akan naik/turun. Kontur dengan interval ketinggian 1 meter dan di dalam gambar tapak juga terlihat berjarak 1 meter akan memiliki kemiringan 45 derajat. Jadi jika jalur jalan berada dalam posisi tegak lurus kontur yang memiliki jarak 1 meter maka kemiringannya sangat curam dan tidak layak didaki. Jarak kontur setiap 2 meter-an akan menghasilkan kecuraman 22,5 derajat dan masih belum layak pula. Jarak kontur setiap 4 meter-an akan menghasilkan kemiringan 11,25 derajat dan ini adalah batas kemiringan yang masih pantas untuk jalan mobil/pedestrian di dalam suatu lahan olahan rancangan arsitektur.
Dalam kondisi tertentu memang akan didapati lokasi jalur jalan yang memang harus berhadapan dengan kontur curam. Jika memungkinkan sebaiknya desain jalur jalan dibuat mengikuti kontur dengan penyelesaian cut/fill atau melayang disangga tiang. Jika didapati bahwa jarak antar kontur terlalu rapat, maka arah jalur jalan dapat diserongkan sampai kemiringan yang mencapai jarak tertentu hingga didapatkan kelandaian yang cukup layak. Selain kemiringan ini, perlu pula diamati bentuk kontur yang menghasilkan lahan berupa punggung bukit dan lahan yang berupa cekungan. Lahan yang berupa cekungan akan selalu menjadi sasaran berkumpulnya arah aliran air. Dengan demikian agar ruang efektif terhindar dari gangguan jalur air, maka sebaiknya bangunan lebih banyak diletakkan pada pungung-punggung bukit.
oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









