Taman Kota yang Hidup
| lansekap |
Fasilitas terbanyak di dalam sebuah wilayah kota adalah permukiman, dan oleh karenanya lebih banyak pula masyarakat kota yang terkelompok menjadi keluarga daripada individu saja. Sebuah keluarga hampir pasti memerlukan tempat bermain untuk keakraban bersama, individu-pun juga memerlukan tempat bermain bersama rekan sejawatnya atau bahkan untuk bersantai sendirian. Tempat santai yang paling optimal adalah ketersediaan ruang terbuka kota sebagai faktor senggang dari himpitan jajaran bangunan yang penuh sesak.
Di kota Bandung terdapat lapangan Gazibu di depan gedung saten yang telah menjadi tempat bermain warga setiap hari sabtu dan minggu. Di hari sabtu malam seringkali diadakan pertunjukan musik bagi kalangan muda. Di hari miggu padi selalu tersedia pasar murah yang menjual aneka barag rumah tangga. Bahkan kebutuhan akan ruang terbuka ini sampai mengalahkan fasilitas umum dengan penggunaan Jalan Dago setiap sabtu malam untuk kegiatan jalan-jalan dan pertunjukan musik.
Semaraknya taman kota di Surabaya sejak tahun 2005 membuat orientasi warga kota untuk berlibur menjadi berubah lebih bagus. Beberapa taman kota yang mangkrak telah dibenahi dengan tekad bulat agar dapat berfungsi optimal bagi masyarakat. Keberanian pemerintah kota membenahi taman menghasilkan nuansa kota yang telah bisa dinikmati saat ini. Bahkan beberapa lokasi yang seharusnya menjadi taman juga berani diperjuangkan pemerintah melawan pengusaha, terutama pengusaha pompa bensin. Alhasil beberapa lokasi eks pompa bensin di Surabaya telah menjadi area hidup yang segar, teduh dan asri sehingga warga tidak bosan-bosannya untuk mengunjungi.
Salah satu prestasi pemerintah dalam mengubah ruang terbuka hijau kota adalah ‘taman flora’ yang dahulu bernama kebun bibit. Oleh pemerintah yang memegang peran jauh sebelumnya, taman ini bahkan sudah hampir dihilangkan dan sebagian besar (lebih dari 60 %) telah diubah menjadi ruko. Tingga tersisa sepenggal taman yang dikelola dengan menjadikannya ‘taman percontohan tanaman’. Tetapi saat itu taman tersebut menjadi area mati yang tidak pernah dikunjungi warga. Pemerintah selanjutnya mengubah taman dengan menambah beberapa area bermain di samping eksisting gazebo-gazebo besar yang sudah ada dan mangkrak. Dengan adanya taman bermain, penangkaran hewan, kolam ikan dan fasilitas outbond ternyata membuat warga tertarik untuk megunjunginya. Di hari-hari libur, taman tersebut telah penuh dan ramai dengan pengunjung.
Pemerintah Surabaya demikian antusiasnya mengelola ’kebun bibit’ yang saat ini telah bernama ’taman flora’ hingga tidak memungut sedikitpun retribusi kepada warga Surabaya. Semua fasilitas serba gratis, mulai dari ongkos masuk, parkir dan penggunaan aula (gazebo besar) untuk kegiatan-kegiatan warga. Bahkan taman ini menjadi lebih ramai dikunjungi para pengguna internet karena disdiakan fasilitas WIFI yang berarti akses internet gratis pula. Sayang sekali taman ini terancam dengan tuntutan pihak swasta untuk mengelolanya. Di balik keramaian ’taman flora’ pemerintah sedang berperang di pengadilan dengan pihak swasta yang ingin mengkomersialkan taman.
oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









