Home KONSERVASI ARSITEKTUR Bangunan Kolonial Konservasi Balai Rakyat Tulungagung dalam Desain

Konservasi Balai Rakyat Tulungagung dalam Desain

konservasi arsitektur

Balai Rakyat Tulungagung adalah salah satu bangunan bersejarah yang terletak di sisi Utara alun-alun kota Tulungagung. Eksistensi bangunan ini sangat dibutuhkan masyarakat kota dan terbukti secara vital dipergunakan untuk berbagai kegiatan yang bersifat masal.



Namun demikian, bangunan  kuno peninggalan kolonial Belanda tersebut telah berumur cukup tua sehingga bagian besar elemen arsitekturalnya memerlukan perbaikan. Tindakan merenovasi bangunan Balai Rakyat tulungagung membutuhkan rancangan yang meibatkan pengembangan kegiatan masa kini. Selayaknya gedung tua tersebut bukan hanya menjadi barang antik yang tidak dapat beradaptasi dengan kegiatan modern, namun sebaliknya dapat dihasilkan sebuah karya arsitektur daur ulang yang cukup berguna bagi masyarakat.



Proses renovasi untuk menyesuaikan keberadaan Balai Rakyat Tulungagung dengan kebutuhan saat ini harus dilaksanakan secara berhati-hat, hingga tidak serta-merta lebih banyak perubahan yang terjadi dibandingkan dengan aslinya. Justru langkah yang lebih tepat jika dapat ditelusuri keaslian bangunan tersebut, kemudian dipertahankan dan diberi tambahan bangunan lain yang justru dapat ditelusuri secara visual, mana bangunan yang asli dan mana yang baru. Kebanyakan tindakan konservasi malah dijalankan sebaliknya, yaitu membuat berbagai detail bangunan baru yang sama dengan bangunan lama. Walau tercapai sebuah kesatuan dan keindahan bangunan, namun hal ini membuat karya arsitektur menjadi rancu, tidak akan tahu nilai sejarah dari bangunan yang asli karena tercampur dengan bangunan yang baru.



Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi Balai Rakyat Tulungagung untuk menetapkan bagian-bagian yang asli dari bangunan. Pengamatan visual telah dapat menetapkan mana jajaran batu yang dibuat di awal bangunan berdiri, dan mana pasangan  batu yang merupakan hasil renovasi beberapa tahun setelahnya. Jika memang hasil renovasi masa lalu itu diketemukan, maka bangunan tambahannya ddapat dihilangkan. Terlihat bahwa ternyata beranda belakang bangunan merupakan hasil renovasi masa lalu, hal itu tampak dari jenis jendela, ketinggian pintu dan atap yang berbeda. Dengan demikian beranda belakang dari Balai Rakyat Tulungagung dapat dihilangkan untuk diganti dengan bangunan baru.



Jika memang dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan, tindakan menghilangkan sebagian dari bangunan asli dan menggantinya dengan bentuk elemen baru akan lebih bijaksana dibanding dengan membuat elemen baru yang dibuat mirip dengan elemen lama. Dengan prinsip ini, maka pintu belakang Balai Rakyat Tulungagung dapat dihilangkan dan diganti dengan portal beton yang lebar agar luasan bangunan dapat lebih banyak menampung kegiatan dengan ruang yang terhubung di tambahan bangunan baru sisi belakang. Jika masih dibutuhkan adanya ruang lagi, maka bangunan tambahan di belakang dapat berwujud dua lantai, asal ketinggiannya tidak mengganggu tampak depan Balai Rakyat Tulungagung yang asli.



Teras depan Balai Rakyat Tulungagung jika diidentifikasi juga merupakan bangunan tambahan hasil renovasi lama. Bahan asbes untuk teras tersebut populer di tahun 1980-an. Terlihat bahwa teras ini keberadaannya tidak menyatu dengan bangunan  utama yang asli dari Balai Rakyat Tulungagung. Oleh karenanya, teras ini perlu dibongkar dan diganti dengan teras baru. Selayaknya teras baru tersebut juga tampil mandiri, tidak seperti teras lama yang menempel pada bangunan baru. Kemandirian ini akan memperkuat aspek visual pembeda antara bangunan lama dan baru. Teras tersebut selayaknya dibuat seramping mungkin agar tidak mengganggu tampilan bangunan asli. Kebutuhan ruang pamer yang cukup luas dapat diakomodasi dengan membuat teras depan yang luas pula.



Perpaduan tampilan bangunan asli Balai Rakyat Tulungagung yang bergaya kolonial dengan bangunan baru yang bergaya modern akan menghasilkan dinamisasi varian tampilan karya arsitektur. Secara prinsip tampilan memang harus berbeda dengan kontras, namun kesatuan tetap dijaga dengan adanya irama, proporsi dan skala yang disesuaikan dengan bangunan asli. Hasil renovasi ini menghasilkan benang merah antara bangunan kuno dan modern yang ber-elaborasi dalam sebuah kesatuan karya arsitektur.

 

oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Search
Clocks
Ulti Clocks content
space1

Web design Surabaya

desain website

Desain website Surabaya.

Jasa SEO Surabaya