Home ARSITEKTUR TRADISIONAL Ruang Tradisional Menelusuri Perwujudan dan Kekuatan Ruang Arsitektur

Menelusuri Perwujudan dan Kekuatan Ruang Arsitektur

arsitektur tradisional

Perwujudan ruang tidak akan terlepas dari alam semesta. Hingga sekarang, bumi inilah yang menyediakan tempat layak bagi manusia untuk hidup dan bernafas. Bumi telah menyediakan manusia agar dapat mencari dan mewujudkan ruang, lalu menggubahnya menjadi sebuah ’tempat’ dan arsitektur yang berguna bagi pencapaian kemajuan peradaban.

gambar 4Gambar 7. Rumah adat Minangkabau, mengelola kekuatan alam yang besar melalui gubahan karya yang mampu mengalirkan angin sejuk, memilah tirai air hujan dan menyaring panas matahari.

Sebaliknya, manusia memahami kekuatan yang ada di alam, lalu emngarahkannya agar dapat berguna bagi kehidupan. Hempasan angin, sengatan matahari, derasnya hujan, tingginya gelombang pasang air laut, dan masih banyak lagi adalah kekuatan alam yang tidak bisa diabaikan oleh manusia. Jadi kekosongan alam adalah sesuatu yang berisi kekuatannya. Kekuatan yang jika tidak dikelola menjadi ruang, bentuk, tempat dan arsitektur akan dapat merusak kehidupan manusia, meniadakan kehidupan menjadi kematian.

Membuat ruang, bentuk, tempat dan arsitektur juga tidak bijak jika dilakukan berbalik melawan kekuatan alam. Menyerang kekuatan alam merupakan kegiatan yang percuma, karena bagaimanapun manusia akan mengalami kekalahan. Oleh karena itulah, kebijakan dalam mewujudkan

ruang bagi kehidupan manusia selayaknya diarahkan untuk mendayagunakannya, mengambil sedikit agar dapat menunjang kehidupan. Dalam mewujudkan ruang, manusia perlu mengarahkan angin agar semilirnya menjadi menyejukkan, manusia perlu mengatur orientasi agar mendapatkan sinar matahari pagi yang hangat, manusia perlu menjauhkan tempat tertentu agar tidak terkena tampias air hujan, dan berbagai pengaturan lain agar budi dan daya yang dilakukan dapat berjalan tanpa terganggu secara ekstrim dengan kekuatan alam. Manusia menandai kekosongan dan kekuatan alam sebagi ’tempat’ baginya untuk berkehidupan, disitulah ruang diwujudkan.

Kekuatan terpenting bagi sebuah ruang yang menjadi ’tempat’ bukanlah ditentukan oleh bentuk enclosure-nya, namun justru lebih ditentukan bagaimana kualitas ruang tersebut ditingkatkan. Enclosure justru hanya merupakan salah satu media yang dapat diselaraskan dengan peningkatan kualitas ruang. Sebuah ruang besar yang diberi batas bentuk, akan dapat dijadikan beberapa ’tempat’ dengan jenis peningkatan kualitas ’ruang’ yang berbeda. Sebuah ruang besar dapat dibatasi oleh bau masakan sebagai penanda keberadaan dapur dan ruang makan. Dapat dibatasi keredupan sebagai ruang tidur dan terangnya sinar sebagai ruang keluarga. Begitu berartinya kekuatan non-materi dalam mendukung eksistensi dari perwujudan ruang.

Kekuatan non materi dari ruang pada awalnya didapatkan dari kekuatan semesta. Namun dengan perkembagan ilmu pengetahuan, saat ini dapat diwujudkan kekuatan alam itu dengan peralatan buatan manusia. Sebuah kekuatan suhu dapat diciptakan dengan air conditioner (AC), kekuatan tekanan udara dan angin dapat diciptakan dengan kipas listrik, kekuatan cahaya dpat diciptakan dari lampu, dan masih banyak lagi peralatan yang dapat menduplikasi kekuatan alam ini demi arsitektur. Penduplikasian kekuatan alam telah mencapai kemajuan dengan perkembangan teknologi sampai pada saat ini. Manusia telah mampu mewujudkan kondisi alam yang dapat memiliki keserupaan di lokasi alam semesta yang berbeda karakter. Namun demikian, kekuatan buatan ini ternyata membutuhkan lebih banyak kekuatan, berupa tenaga listrik untuk menghidupkannya, belum lagi dampak kerusakan lingkungan yang dapat muncul karena pembuangan dari mesin pencipta kondisi ini.

Secara bijak, duplikasi kekuatan alam dalam membentuk ruang menjadi sebuah ’tempat’ perlu dilakukan secara terintegrasi dalam konsep yang konsisten. Jika dalam sebuah gubahan arsitektur telah ditentukan satu titik ruang yang terfokus, maka selayaknya di ruang tersebut diwujudkan sebuah ’tempat’ dengan segenap potensi besarnya. Di ruang fokus tersebut dapat dibuat suhu tersejuk, dapat dibuat tekanan udara tertinggi dengan hembusan angin yang keras, dapat dibuat penerangan cahaya yang paling kuat, dan lain-lain. Adi daya manusia dari olah rasa dan seni perlu dikerahkan sekuat mungkin agar ruang demi ruang dan tempat demi tempat di dalam arsitektur dapat memiliki dramatisasi yang dapat meningkatkan apresiasi manusia di dalam dan sekitarnya. Olah rasa dan seni ini akan sesuai dengan makna dari arsitektur yang merupakan aktualisasi dari keberadaan menghuni, manifestasi komunikasi dari budaya manuisa dan representasi dari seseorang untuk berkarya (Siregar, 2006).

Apresiasi manusia terhadap arsitektur memang dapat direkayasa dengan peralatan buatan, namun demikian tidak semua hal dapat dilakukan. Manusia tidak mampu mengubah langit yang gelap pada malam hari untuk menjadi terang. Manusia tidak mampu merubah bentuk awan dan lurusnya garis cakrawala. Manusia selayaknya selalu ingat dan mengakomodasi kekuatan alam, mengaturnya agar arsitektur dengan segenap ruang dan tempatnya dapat hadir sesuai dengan konsep yang diinginkan. Jangan sampai konsep yang kuat terasa di siang hari menjadi hilang ketika alam menjadi gelap saat malam tiba. Jangan sampai pula ruang yang sudah terencana dengan kualitas yang benar menjadi bubar karena guyuran hujan. Jangan sampai ruang yang sudah memiliki kekuatan yang selaras dengan kegiatan di pagi hari menjadi rusak karena sengatan panas matahari sore hari. Sesedikit apapun perubahan alam pasti mempengaruhi kualitas ruang sebagai tempat. Dengan pengalaman mengakomodasi kekuatan alam dan sistemnya, arsitek perlu pula menelitinya jengkal demi jengkal dan merekayasanya dalam tatanan konsep. Kekuatan ruang terbesar dalam arsitektur dipengaruhi oleh alam secara alamiah, selanjutnya baru dapat dipikirkan bagaimana kekuatan alam itu dimunculkan dengan peralatan buatan yang bersama-sama didukung oleh keberadaan enclosure hingga tercipta bentuk-bentuk arsitektur. Jika bentuk ini dirancang terlebih dahulu, maka dalam evaluasi selanjutnya perlu ditinjau lagi apakah bentuk ini mendukung kualitas ruang yang tercipta di dalam arsitektur, dan sekali lagi, perlu ditinjau agar jangan sampai mengabaikan kekuatan ruang alam semesta.

 

Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Search
Clocks
Ulti Clocks content
space1

Web design Surabaya

desain website

Desain website Surabaya.

Jasa SEO Surabaya