Pohon Hayat sebagai Falsafah Ruang Arsitektur Nusantara
| arsitektur tradisional |
Telah banyak ahli yang mendefinisikan ruang arsitektur, baik dengan metoda fenomenologi untuk melihat asal mula kehadiransebuah ruang, maupun dengan menggunakan filsafat tertentu. Baik secara fenomenologis maupun filosofis, para ahli yang didominasi oleh pemikir dari Barat selalu mendefinisikan berdasar sudut pandang pemikirannya dari latar belakang dan fenomena keilmuan tertentu.
Gambar 1. Penterjemahan ruang sebagai mikrokosmos yang berhubungan dengan makrokosmos (Relief yang menunjukkan bangunan dan ruangnya, berada di halaman Candi Sukuh, Jawa Tengah)
Kondisi bahwa segenap filsafat yang ada pada berbagai lokasi di belahan bumi ini selalu memiliki perbedaan perlu dimengerti, agar pendefinisian tentang ruang ini tidak hanya dianggap benar dari sudut pandang pemikiran Barat saja, namun perlu juga meninjau sudut pandang pemikiran lain untuk masyarakat Timur, khususnya Nusantara. Oleh karena itu pembahasan tentang ruang arsitektur yang akan dilakukan juga akan dianggap sebagai kebenaran yang bersifat obyektif, walau demikian tetap ada subyektifitas dari latar filsafat dan budaya yang ada di Indonesia. Alam Nusantara dengan budaya yang telah melingkupi diinginkan menjadi tinjauan subyektif implisit hingga menghasilkan telaah yang berbeda namun sederajat dengan pemahaman ruang dari Barat. Walaupun telaah yang dilakukan menggunakan falsafah fenomenologis agar tetap obyektif, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi subyektifitas pemahaman karena jati diri ke-Nusantaraan yang berbeda dengan dasar pemikiran filsafat Barat
Baik filsafat barat maupun nusantara sama-sama memiliki pemahaman tentang kosmologi. Kata ’kosmos’ (dunia) dan ’Logos’ (ilmu) sama-sama dipahami sebagai sebuah percakapan tentang dunia beserta ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Namun demikian terdapat perbedaan signifikan, bahwa masyarakat barat cenderung menelaah kosmologi secara rasional, sedang masyarakat nusantara menelaahnya secara spiritual. Masyarakat barat cenderung menyoroti masalah kosmologi dengan mempersoalkan ruang, waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan dan keabadian (Rapar, 1996). Di lain pihak masyarakat nusantara melakukan pencarian faktor kosmos dengan penyerahan sepenuhnya kepada kekuatan alam sebagai kosmos makro (macrocosmos) dengan penyelarasan terhadap dunia kecil kehidupannya sebagai kosmos mikro (microcosmos). Alam bukan untuk dieksploitasi dan direkayasa dengan unsur-unsur matematis rasional, tapi merupakan faktor yang perlu dihormati secara spiritual oleh masyarakat nusantara
Gambar 2. Pohon hayat pada relief di candi Mendut.
Masyarakat Nusantara mempelajari filsafat kehidupan dari alam sekitarnya. Banyaknya pepohonan yang tumbuh di daerah tropis ini mempengaruhi filsafat dan pemikiran tentang kehidupan. Pada beberapa bukti peninggalan bersejarah, di berbagai kepercayaan dikenal adanya ’pohon hayat’ (Sony, 2007). Gambaran pohon hayat banyak ditemui pada relief candi-candi di jawa, ukiran kayu di Cirebon, tenun hiasan dinding di Lampung, tenun dari Kroe Sumatra selatan dan kain tenun songket dari Lombok. Dalam kepercayaan Hindu pohon ini disebut pula dengan nama ’kalpataru’. Pohon ini menginterpretasikan gambaran tentang simbolisme keyakinan terhadap kekuatan yang mampu memberi harapan terhadap keberlangsungan hidup. Masyarakat jawa menggabungkan eksistensi pohon ini dengan tempat hidupnya yaitu gunung, hingga tercipta sebuah ikon kosmos berupa ’gunungan’. Gunungan sering dipergunakan untuk membuka pertunjukan wayang kulit, secara simbolik merupakan dunia penghubung sekaligus sebagai pusat keseimbangan kosmos dari wayang yang ada di kanan (kekuatan positif) dan wayang di sisi kiri (kekuatan negatif).
Bagi masyarakat Nusantara, keseimbangan alam inilah faktor utama bagi kehidupan, faktor utama untuk manusia dalam menempati sebuah ruang yang dapat digunakan untuk berbudaya. Selayaknya pengertian ruang versi Nusantara ini dibedakan pula dengan pengertian ruang versi Barat (Sastroatmodjo, 2006)
Gambar 3. Pohon hayat pada relief di candi Prambanan
Secara sederhana, pengertian ruang merupakan jarak tertentu yang terjadi antara manusia pengamat dengan obyek benda yang diamatinya. Diantara manusia dan obyek tersebut terdapat kekosongan dalam jangkauan mata manusia. Jika benda jelas maka ruang juga terasa kuat, semakin jauh benda tersebut maka ruang juga semakin berkurang, semakin jauh hingga benda tidak terlihat, maka ruang juga akan hilang. Ruang terwujud bukan hanya dalam skala interior, namun juga eksterior, kawasan sampai urban. Setiap ruang terpengaruhi oleh lingkungannya, di mana setiap lingkungan dipengaruhi oleh manusia yang menempatinya dengan persepsi tertentu. Hubungan antara ruang dan manusia ini ditelaah oleh potensi manusia yang memiliki kognisi spasial dan perilaku spasial (Laurens, 2005). Setiap benda yang diamati menyiratkan sebuah kesan tertentu, oleh karenanya disebut pula sebagai bentuk. Keberadaan ruang dpengaruhi oleh bentuk yang ada di dekatnya, bentuk itulah yang menjadi pembatas (enclosure) dari ruang.
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|












