Mempertimbangkan Tradisi Arsitektur
| arsitektur tradisional |
Arsitektur, lingkup dimana manusia bergerak, bernafas dan berbudidaya. Hadir dari karya alam, lalu dipadukan dengan karya manusia. Bahkan sarang serangga yang diambil alih dan dipergunakan sebagai tempat manusia berbudaya juga dapat disebut sebagai arsitektur, dengan arsitek: serangga.
Bahkan rumah manusia yang diambil alih dan dipergunakan serangga untuk hidup sudah tidak bisa lagi disebut arsitektur, kecuali manusia merebutnya kembali untuk berbudaya.
Dengan nalarnya, setiap kelompok manusia berusaha menyelesaikan masalah kehidupan, termasuk arsitektur. Namun demikian, tidak ada satupun manusia yang dimasa hidupnya dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Mungkin masalah tersebut perlu diselesaikan oleh keturunannya. Proses turun temurun dalam menyelesaikan masalah kehidupan inilah yang disebut tradisi. Dengan kata lain tindakan tradsisi itu untuk nalar, budi dan daya manusia. Tradisi, suatu budidaya manusia yang diwariskan.
Karena ego anak kepada bapaknya yang dianggap kolot, maka tradisi ini menjadi macet. Belum lagi pengaruh orang lain untuk tidak perlu memperhatikan petuah orang tua. Apalagi kalau orang lain itu justru hidup di lingkungan yang serba lebih menarik, bisa hantam kromo seenaknya, maka musnahlah tradisi, berganti menjadi budaya orang lain. Sebuah penyelesaian masalah kehidupan menjadi terlepas dari sistemnya, tradisi menjadi hilang.
Karena ego pula seorang anak tidak bisa memahami makna tradisi, bahwa budaya itu ’diwariskan’. Bukan ’dititipkan’ untuk tidak boleh diubah sesuai jaman. Silahkan saja jika mau membuat lagu ’keroncong protol’, mungkin itu yang cocok untuk generasi muda. Silahkan jika mau membuat lagu rap berjudul ’jaranan’, silahkan mempertimbangkan tradisi yang sesuai dengan jaman anak muda, dan sebaiknya janganlah sampai segenap indera dan hati dibutakan terhadap tradisi walau secuilpun. Inti masalahnya adalah pada orang tua yang terlalu memaksa, dan anak yang terlalu tidak peduli. Semua yang serba terlalu hampir bisa menyebabkan keburukan.
Sebuah contoh tradisi dalam arsitektur jawa adalah rumah joglo, hasil evolusi ratusan tahun dari vernakular menjadi tradisional. Sejak awal penyebutannya, rumah joglo memiliki kerumitan dalam pembuatan dan penamaan elemen konstruksinya. Tradisi berjalan, hingga terjadi evolusi rumah joglo menjadi berbagai nama.
Gambar 1. Evolusi bangunan jawa dari panggung menjadi menapak di tanah
Gambar 2. Evolusi bangunan jawa karena kebutuhan luas ruang
Gambar 3. Evolusi bangunan jawa menjadi rumah joglo
Gambar 4. Dua contoh evolusi rumah joglo hasil tradisi
Gambar 5. Contoh gambar denah dari tradisi perubahan ’ruang dalam ruang’ untuk bangunan joglo
Gambar 6. Berbagai contoh perubahan bangunan joglo dengan pertimbangan teknologi bahan masa kini.
Profesor Josef Prijotomo menyebutkan proses pewarisan budaya ini dalam dua kategori, yang ’intangible/tanragawi/order/tertib langgam’, dan yang ’tangible/ragawi/style/langgam’. Hal-hal yang tidak terlihat (terasa) dan yang tidak terlihat (teraga). Demikian pernyataan beliau, jika seseorang merancang dengan menggunakan tradisi (lebih mudah saya gunakan istilah ’style’ dan ’order’ serta ’tradisi’) :
Jika ’style’ tidak berubah dan ’order’ juga tidak berubah, maka tidak ada pewarisan/tradisi, hanya ada penitipan budaya !
Jika ’style’ tidak berubah, tetapi ’order’ berubah, maka terjadi pewarisan tradisi di dalam ’order’-nya
Jika ’style’ berubah, tetapi ’order’ tidak berubah, maka terjadi pewarisan tradisi di dalam ’style’-nya
Jika ’style’ dan ’order’ dirubah semua, maka terjadi ’budaya baru’ yang lain, tidak ada tradisi !
...
Kapankah kita bisa berdiskusi dengan arsitek Frank Gehry dan Tadao Ando sebagai insan sederajat yang sama-sama memiliki budaya tersendiri, sama-sama memiliki budaya yang tinggi ? atau kita lebih senang menjadi bawahan mereka ?
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









