Antara tradisional, kuno, klasik dan modern
| arsitektur tradisional |
Mudah-mudahan istilah tradisional, kuno dan klasik dapat dibedakan untuk memperjelas konteks perwujudan arsitektur. Sudah dipahami bahwa tradisional merupakan konteks yang menyangkut pewarisan budaya kepada generasi di bawahnya. Kata ’kuno’ merupakan konteks terhadap sesuatu yang lama, batasnya bisa satuan, puluhan dan ratusan tahun.
Sesuatu yang kuno merupakan peradaban lama yang sudah berbeda dengan peradaban masa kini. Kata ’klasik’ ini mungkin terjemahannya agak kontroversial dengan pemahaman kita sehari-hari. Bahwa ’klasik’ tersebut menunjukkan sebuah langgam tertentu di eropa abad ke , untuk menyempurnakan langgam barok dan rokoko. Klasik merupakan langgam dengan karakteristik yang sempuna, seimbang dan anggun.
Jika dimunculkan istilah ’nusantara klasik’, maka rujukannya adalah gaya kolonial saat menggunakan aspek ’klasik’ yang sempurna, seimbang dan anggun di nusantara. Mohon dicermati bahwa arsitektur kononial nusantara juga terpengaruhi gaya arsitektur global. Bank Indonesia Jakarta terpengaruhi gaya klasik, sedang Hotel Savoy Homan Bandung terpengaruhi gaya modern ’art noveau’, Hotel Majapahit Surabaya terpengaruhi gaya modern dari Berlage. Gaya klasik muncul lagi di Nusantara pada masa modern tahun 2000-an, sub kontraktor besar yang banyak menanganinya adalah perusahaan bernama Da Vinci.
Apakah arsitektur nusantara itu sempurna, seimbang dan anggun ? sudilah kiranya melihat arsitur tradisional Batak. Ternyata kesempurnaan bukan tujuan utama di Nusantara, kesempurnaan hanya untuk Sang Pencipta, sedangkan manusia dipahami sebagai makhluk yang boleh tidak sempurna. Hasil gubahan manusia-pun boleh tidak sempurna, tidak seimbang, dengan atap tinggi yang berat di depan dan disangga tiang kayu ramping. Tidak ada keanggunan, tidak perlu... yang penting kemasyarakatan dan kemanusiaan. Spiritualitas justru tercapai untuk memahami posisi manusia beserta hasil gubahannya terhadap Sang Pencipta beserta alam hasil ciptaannya. Manusia perlu mengetahui jatah mikrokosmos untuk dirinya dan makrokosmos milik Sang Pencipta.
Untuk memperjelas peristilahan ini, maka bisa didapatkan bahwa lawan kata ’kuno’ adalah ’modern’. Lawan kata ’tradisional’ dan lawan kata ’klasik’ dalam konteks yang berbeda adalah kata ’modern’ pula. Konteks kuno>
Sudilah kiranya setiap insan arsitektur membanggakan nilai lokalnya masing-masing. Nilai di tempatnya tumbuh dan berkembang, nilai di Batavia, Bandoeng, Djokja, Sooloo, Medan, Makasar, Denpasar, Singaraja, Jayapura, dll, dsb. Siapa lagi yang akan mengangkat nilai-nilai tersebut untuk eksistensi ’arsitektur nusantara modern’ yang lebih sakti mandraguna...
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









