Olah Geometri Islami di Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin
| arsitektur tradisional |
Masjid bersejarah Sultan Suriansyah terletak di Jl. Kuin Utara, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Bangunan tua ini memiliki keunikan yang cukup memukau dari berbagai penyelesaian detail-detail arsitekturalnya.

Dominasi warna hijau dan berbagai ukiran tradisional menghiasi bangunan hingga tampil artistik. Ada hal yang cukup menonjol, yaitu penggunan geometri Islami dalam bentuk ‘Islamic Pattern’ berupa ‘taprat’. Tampilan khas dari ‘taprat’ yang banyak digunakan sebagai simbol pada berbagai benda Islami di seluruh dunia adalah dua buah segi empat yang bertumpang tindih ter-rotasi sebesar 45 derajat. Bentuk geometri ini selalu diulang-ulang baik sebagai pembatas (border), karawang dinding, pintu atau jendela, pola lantai, pola plafond dan lain-lain. Hal-hal semacam itu teraktualisasi secara integral dalam tampilan arsitektur Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin.
Tiang utama masjid yang berpenampang segi empat dibuat dengan pola taprat secara elevasional. Bagian bawah dalam satu arah segi empat, dan bagian atasnya dalam segi empat yang mengarah hingga bersudut 45 derajat. Bentuk kolom yang ter-rotasi antara bagian bawah (kaki) dan bagian atas (badan kolom) menghasilkan tektonika arsitektural yang estetik. Varian arah tersebut selain memilliki makna Islami juga menghasilkan keindahan bentuk. Proporsi yang tepat dalam menentukan dimensi kolom bawah yang lebih besar tapi pendek dibanding dengan kolom atas turut serta menghasilkan keseimbangan bentuk kolom. Keinginan mewujudkan bentuk ini sepertinya sederhana, namun cukup rumit karena berlawanan dengan prinsip konstruktif sebuah bangunan yang efisien. Memutar kolom tersebut tentu akan banyak membuang bahan dan tenaga, belum lagi kekuatan kolom yang akan berkurang jika ternyata dua kolom terotasi ini terdiri dari dua elemen konstruksi hingga butuh cara penyambungan yang tepat agar Masjid bias berdiri kokoh.
Cara pemutaran elevasional dari pola taprat ini juga tampak pada gugus bentuk salah satu bangunan pendukung di samping masjid. Dinding bangunan denahnya berbentuk segi empat, atapnya juga berbentuk segi empat namun diputar sebesar 45 derajat. Sama dengan kolom pada tulisan di atas, hasil pemutaran ini juga menghasilkan komposisi bentuk yang unik secara arsitektural dan bermakna secara Islami. Penyelesaian konstruksipun juga akan lebih rumit dari sekedar bangunan efisien, namun demikian hasilnya lebih penting dibanding nilai biaya dalam membangunnya. Nilai filosofis dan kualitas estetika telah mengalahkan keinginan untuk hanya sekedar menghasilkan arsitektur sebagai ‘shelter’ saja. Arsitektur di sini telah dihadirkan sebagai bahasa simbolis bagi umat muslim yang mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah.
Pola lantai masjid juga berhias taprat yang dibentuk dengan konstruksi jajaran papan kayu ulin. Untuk dapat membentuk pola ini tentunya dibutuhkan pengetahuan konstruksi tambahan dari sekedar pembuatan lantai papan kayu secara standar. Adanya pola taprat pada lantai papan kayu ini juga membutuhkan konstruksi bahan tambahan berupa balok-balok kayu yang miring 45 derajat. Sungguh suatu upaya yang tidak sederhana dalam penampilan bentuk filosofis Islami. 
Pola plafond juga dibuat bergeometri taprat dengan kecerdikan dalam menampilkan kompisisi level plafond yang berbeda hingga menghasilkan bentuk cukup artistik dan arsitektural. Paduan penggunaan bahan kayu dan kaca warna dilakukan agar dapat memunculkan dinamika estetis. Lampu-lampu gantung dengan besaran yang berbeda diatur sedemikian rupa hingga menampakkan yang utama di tengah dan yang mendukung di bagian-bagian tepinya.
Ornamentasi pintu dan jendela dihiasi dengan beracam ukiran, namun yang paling fokus dan menyolok adalah penghadiran pola taprat. Tampilan pola taprat ini juga dihias dengan penyelesaian yang berbeda. Adanya garis lengkung dari ekstensi segi empat menunjukkan kekayaan kreatifitas sang perancang pola pintu dan jendela. Sadar bahwa pola geometri ini bersanding dengan hiasan berukir, maka di ujung-ujung segi empat pola taprat juga diberi sedikit ukiran berbentuk daun. 
Demikian berpengaruhnya pola geometri taprat ini hingga saat menambah elemen arsitektur tambahan baru yang lain berupa pagar stainless steel juga dihadirkan kembali pola yang sama. Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin merupakan salah satu contoh karya arsitektur yang dihasilkan oleh arsitek kuno bervisi tinggi. Pemahaman akan perlunya penghadiran simbol filosofi islami disesesaikan dengan cukup cerdik hingga menghias berbagai sudut masjid tanpa berulang sama dan membosankan. Berbagai varian penyelesaian bentuk geometri yang berprinsip sama telah menghadirkan karya arsitektur yang memukau dari segi estetis.
oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
| Comments |
|









