Desain Paradoks
| arsitektur kontemporer |
Kata ‘paradoks’ mengandung arti tentang sesuatu yang melawan azas. Perlawanan azas ini diperlukan dalam rangkan mencari kebenaran dari sebuah fenomena yang sudah menjadi kebiasaan dan budaya kehidupan manusia. Mendesain dengan paradoks akan selalu membuat pemikiran-pemikiran inovatif dengan berbagai pertanyaan tentang kebenaran desain yang lebih benar. Setiap desain yang benar pasti akan berkembang sesuai dengan inovasi-inovasi yang dilakukan oleh arsitek. Desain yang benar bukan kegiatan berulang-ulang secara stagnan dan monoton.
Desain paradoks dapat diterapkan dalam berbagai sudut pandang arsitektur. Pengolahan bentuk paradoks akan menghasilkan bentuk baru di luar kebiasaan. Sebagai contoh desain bentuk pintu, tentunya bentuk pintu yang ada saat ini sudah merupakan kebiasaan yang stagnan dari kegiatan desain. Dapat dipertanyakan bahwa pintu tidak harus selalu memiliki ketinggian 2,1 meter, tidak harus selalu berbentuk segi empat, tidak harus selalu memiliki kusen, tidak harus selalu dengan engsel maupun rel geser. Penemuan jawaban dari hasil pencarian adalah karya paradoks yang cukup menarik.
Desain paradoks dpat diterapkan pula dalam sistem tatanan ruang arsitektur, dapat pula dalam sistem pencahayaan, sistem struktur dan konstruksi, sistem penghawan, sistem sirkulasi serta masih banyak lagi. Desain paradoks dapat serta merta diterapkan dalam seluruh unsur desain, dapat pula secara parsial. Desain secara parsial bahkan dapat digunakan untuk membandingkan antara yang biasa dengan paradoks, sehingga terjadi kekayaan prinsip desain dalam satu kesatuan bentuk arsitektur.
University of Toronto Multifaith Building yang didesain oleh arsitek Moriyama dan Teshima adalah salah satu contoh desain dengan dasar pemikiran paradoks di mana sistem tatanan ruang menjadi bidang olahannya. Arsitek menginginkan sebuah tempat yang dapat menampung mahasiswa beragam agama untuk melakukan kegiatan spiritual. Kegiatan spiritual dipandang lebih bersifat universal, berbeda dengan kegiatan ritual yang memiliki langgam tersendiri dari setiap agama yang dianut. Tantangan arsitek adalah penyediaan ruang arsitektur yang mampu merangkum atau sekaligus membersihkan beragam pemahaman terhadap ruang spiritual.
Semangat untuk mendesain dengan paradoks membuat arsitek terkenal Frank Gehry mendesain karya-karya spektakulernya. Karya yang dirancang Gehry memang ditujukan untuk hiruk-pikuk ketenaran, melawan yang stagnan dan biasa terjadai dalam desain-desain arsitektur. Setiap arsitek pasti brusaha melawan kemonotnan desainnya dengan menciptakan karyakarya yang lebih dinamis. Frank Gehry seakan lebih meledak dalam menciptakan kedinamisan tersebut.
Oleh : Tjahja Tribinuka
Dosen Jurusan Arsitektur ITS
Sumber :
http://www.archidose.org/Jul00/073100.html
http://www.e-architect.co.uk/toronto/multifaith_centre.htm
| Comments |
|









